Showing posts with label Cara mengobati penyakit stroke. Show all posts
Showing posts with label Cara mengobati penyakit stroke. Show all posts

Friday, July 2, 2010

Ruang Lingkup Pendidikan

Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai – nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun kesederhanaan nya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan

pada hakeketnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.
Sekedar memperjelas pengertian, berikut ini terdapat beberapa definisi yang antara lain :
1. Tinjauan Etimologis
Istilah pendidikan ini menurut Carter V. Good dalam “ Dictionary of Education “ dijelaskan sebagai berikut :
a. Pendidikan adalah seni praktek atau profesi sebagai pengajar ( pengajaran)
b. Pendidikan adalah ilmu yang sisitematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip – prinsip dan metode – metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas diartikan dengan istilah pendidikan.
c. Proses perkembangan pribadi
d. Proses social
e. Seni untuk membuat dan memahami ilmu pengetahuan yang tersusun dan diwariskan atau dikembangkan masa lampau oleh setiap generasi bangsa.
2. Menurut buku “ Higher Education For Americal Democracy “ dinyatakan bahwa pendidikan adalah suatu lembaga dalam tiap – tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama dengan setiap masyarakat. Sistem pendidikan suatu masyarakat ( bangsa ) dan tujuan pendidikannya didasarkan atas prinsip – prinsip ( nilai – nilai ), cita – cita dan filsapat yang berlaku dalam suatu
masyarakat ( bangsa ).
3. Menurut profesor Toshiko Kinosita ( Kompas, 24 mei 2002 ) mengemukakan bahwa sumber daya manusia di Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya kerena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politis dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang.
Pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut di karenakan dimilikinya keterampilan teknis yang
diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah di kuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakan pembangunan nasional.
Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investor sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-moneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang sudah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya ( Walter W, 1982 : 121 ).
Menurut instruksi presiden RI No.15, Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia, jasmaniah dan rohaniah, yang berlangsung seumur hidup, baik didalam maupun diluar sekolah, dalam rangka pembangunan
persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia yaitu manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa,berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatip, trampil, berdisiplin, beretos kerja professional, tanggung jawab dan produktif, serta sehat jasnani dan rohani. Pendidikan juga harus dapat menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan social, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikaf menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi pada masa yang akan datang.
Edwin B. Flippo
“Pendidikan adalah berhubungan dengan peningkatan umum dan pemahaman atas lingkungan kita secara menyeluruh”.
Drs.Jan Bella
“Pendidikan sama dengan pengembangan yaitu merupakan proses peningkatan keterampilan kerja baik teknis maupun manajerial. Pendidikan berorientasi pada teori, dilakukan dalam kelas, berlangsung lama, dan biasanya menjawab why”.
4. Fungsi pendidikan
Dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi antara lain adalah :


a. Fungsi sosial kemanusiaan
Fungsi ini merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik, dan membantu seseorang mengembangkan potensinya semaksimal mungkin.
b. Fungsi politis
Fungsi ini merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu seseorang untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warga Negara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demokratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesedaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.
c. Fungsi budaya
Fungsi ini merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkatan individual, pendidikan membantu

seseorang untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma- norma, nilai- nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikaf yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadi akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.
d. Fungsi kependidikan
Fungsi ini merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu seseorang belajar dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat ( life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.
5. Teori Dasar Dalam Pendidikan
Usaha pendidikan dilakukan atau diusahakan manusia berdasarkan keyakinan tertentu. Keyakinan ini didasarkan atau suatu pandangan, baik filosofis maupun teoritis ( ilmiah ).Asas demikian merupakan titik tolak yang wajar. Artinya tiap orang akan melaksanakan suatu pekerjaan jika tujuan dan hasil pekerjaan itu mereka yakini dapat dicapai. Demikian pula usaha pendidikan secara melembaga.
Keyakinan ini disebut para ahli sebagai hukum – hukum dasar atau teori – teori dasar pendidikan. Teori – teori tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Teori Empirisme
Ajaran empirisme yang dipelopori oleh John Locke ( 1632 – 1704 ) menyatakan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan. John Locke menyimpulkan bahwa tiap individu dilahirkan sebagai kertas putih dan lingkungan itulah yang “ menulisi “ kertas putih itu. Teori ini terkenal sebagai teori Tabularasa dan teori Empirisme. Bagi John faktor pengalaman yang berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seseorang. Karena lingkungan itu relatif dapat diatur dan dikuasai manusia, maka teori ini bersifat optimis dengan tiap – tiap perkembangan pribadi.
2. Teori Nativisme
Ajaran Nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer ( 1788 – 1860 ) menganggap faktor pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran, yang tidak dapat dirubah oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan itulah kepribadian manusia. Potensi itulan pribadi seseorang, bukan hasil pendidikan. Tanpa potensi hereditas yang baik, seseorang tidak mungkin mencapai taraf yang dikehendaki,

meskipun di didik secara maksimal. Seorang anak yang hereditas rendah, akan tetap rendah, meskipun ia sudah dewasa dan telah di didik. Pendidikan tidak merubah manusia, karena potensi itu bersifat kodrati.
3. Teori Konvergensi
Ajaran Konvergensi ini dikemukakan oleh Wiliam Stern ( 1871–1938) menyatakan bahwa bagaimanapun kuatnya alasan kedua aliran pandangan diatas, namun keduanya kurang realistis. Suatu kenyataan, bahwa potensi hereditas yang baik saja, tanpa pengaruh lingkungan ( pendidikan ) yang positif tidak akan membina kepribadian yang ideal. Sebaliknya, meskipun lingkungan ( pendidikan ) yang positif dan maksimal, tidak akan menghasilkan kerpibadian yang ideal, tanpa potensi hereditas yang baik. Oleh karena itu, perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil proses kerja sama kedua faktor, baik internal ( potensi – hereditas ) maupun faktor eksternal ( lingkungan- pendidikan ). Tiap pribadi adalah hasil konvergensi faktor – faktor internal dan eksternal.

Jenis Pendidikan

a. Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah pendidikan sekolah yang teratur, standard dan mempunyai jenjang dan yang dibagi dalam waktu – waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak – kanak sampai perguruan tinggi ( Idris Zahara 1981: 58 ). Walaupun masa sekolah bukan satu – satunya masa bagi setiap orang untuk belajar. Namun kita menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang strategis seseorang dalam membina dan menghadapi masa depan.


b. Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari – hari dengan sadar atau tidak sadar ( Idris Zahara 1981 : 58). Pendidikan ini banyak didapat pada keluarga dan masyarakat. Tetapi pendidikan dalam keluarga adalah yang lebih utama. Hal ini karena seseorang lebih banyak didalam rumah tangga dibandingkan ditempat – tempat lainnya.
c. Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal adalah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan terencana diluar kegiatan persekolahan ( Idris Zahara 1981 : 59 ). Pendidikan ini contohnya kursus – kursus atau lembaga – lembaga pelatihan. Pendidikan non formal sangat bermanfaat terutama bagi masyarakat yang tidak dapat menikmati pendidikan formal dan juga bagi masyarakat desa yang masih rendah tingkat pendidikannya serta status ekonominya.

Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok organisasi dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan ( Syah Muhibin 1995 : 10 ).
Pendidikan merupakan suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan, sehingga dalam hal ini melibatkan berbagai macam komponen yang terkait baik secara langsung maupun tidak. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka timbul pula macam – macam pandangan tentang pengertian pendidikan itu sendiri, berikut ini berbagai pendapat dari para ahli tentang pendidikan tersebut, antara lain ( Idris Zahara 1981 : 9 ) :
a. Hoogveld : Mendidik adalah membantu siswa supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri,
b. Ki hajar Dewantoro : Mendidik adalah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada siswa agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi – tingginya.
c. Jhon Dewey : Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah atau yang sesama manusia.
d. S.A Branata Dkk : Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak- anak akan tetapi kita membutuhkan pada waktu dewasa.

Masa Kerja

Kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi oleh penempatan tenaga kerja dari departemen sumber daya manusia. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap organisasi menginginkan para pegawainya terus berkarya pada organisasi yang bersangkutan selama masa kerjanya. Oleh karena itu dalam penempatan tenaga kerja, departemen sumber daya manusia harus benar – benar dalam memilih tenaga kerja yang benar – benar sesuai dengan pekerjaannya yang akan diberikan. Apabila tenaga kerja yang ditempatkan dapat bekerja dengan baik maka kinerja perusahaan secara keseluruhan akan menjadi optimal. Pada dasarnya setiap karyawan memiliki kemampuan, kepandaian, keterampilan dan potensi yang dapat berubah dan berkembang dari waktu kewaktu. Kemampuan dapat ditingkatkan dengan memberikan latihan. Kepandaian dapat ditingkatkan dengan belajar sementara keterampilan seseorang dapat ditimbulkan dengan mengerjakan tugas berulang – ulang.
Perusahaan tentu saja tidak mengharapkan pergantian pegawai yang terlalu capat atau sering, dalam arti banyak pegawai yang meninggalkan perusahaan dengan berbagai alasan, akibatnya perusahaan harus merekrut kembali pegawai baru yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Masa kerja karyawan dalam perusahaan dipandang berpengaruh terhadap kualitas kerja karyawan karena dengan masa kerja yang lebih lama karyawan akan memiliki pengalaman yang lebih banyak dan keterampilan bekerja yang lebuh baik dalam menyesuaikan pekerjaannya. Masa kerja diukur dengan satuan waktu, misalnya tahun atau bulan. Masa kerja berhubungan dengan waktu kerja seseorang, yaitu dari segi kuntitas seseorang dalam menjalani pekerjaannya ( Tulus 1993 : 113 ). Sejalan dengan masa kerja yang bertambah karyawan diharapkan semakin berkembang dan menguasai pekerjaannya dengan lebih baik serta dapat mnyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Arti kerja bagi karyawan

Dalam kehidupan manusia selalu mengadakan berbagai macam aktifitas salah satunya yaitu yang dinamakan “kerja”. Kerja adalah pengarahan tenaga baik berupa bekerja jasmani atau maupun rohani yang dilakukan untuk menyelenggarakan proses produksi.
Faktor pendorong penting yang menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aktifitas dalam kerja mengandung unsur suatu kegiatan sosial menghasilkan sesuatu dan pada akhirnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhanya, yaitu dengan melalui hasil kerjanya. Ia akan menggantungkan hidupnya kepada perusahaan dengan menerima upah atau gaji dan tunjangan lainya dari hasil kerjanya. Jadi pada hakekatnya orang bekerja tidak saja untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, tetapi yang lebih baik.

Kebutuhan yang harus dipenuhi ini merupakan suatu tujuan yang memotivasi seseorang untuk melakukan aktifitas. Jadi bekerja adalah aktifitas manusia yang dmotivasi oleh adanya suatu kegiatan atau kebutuhan

Pengertian Manajemen Personalia

Di dalam perusahaan, faktor manusia sebagai tenaga kerja mempunyai arti penting dalam usaha sebagai penghasil kerja dan motor penggerak tujuan perusahaan. perusahaan cenderung lebih banyak memperhatikan masalah tenaga kerja sebagai pribadi maupun hubunganya dengan berbagai pihak, baik dengan lingkungan, pekerjaan, kebutuhan, kepuasan dan hasil kerjanya.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai definisi manajemen yang dikemukakan oleh berbagai ahli ekonomi, antara lain menurut :
George R Terry
“Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain”.
Drs.Oeu Liang Lee
“Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan diri pada SDM untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu”.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan dengan bantuan orang lain atau tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi yang patut mendapat perhatian, karena dapat mempengaruhi stabilitas harga.

Tenaga kerja (personalia) dalam perusahaan sangat berpengaruh disamping sumber daya lain dalam mencapai hasil kerja dan tujuan perusahaan. Dalam mempelajari personalia, memerlukan pengetahuan yang menyangkut bidang ilmu jiwa, ekonomi, dan administrasi karena disini menyangkut berbagai masalah rumit mengenai manusia dalam hubunganya dengan pihak-pihak tertentu (didalam organisasi) atau dengan lingkungan kerja.