Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Baikpada status gizi kurang, maupun status gizi lebih terjadi gangguan gizi. Dan gangguan gizi disebabkan oleh faktor tidak langsung dan faktor langsung, factor langsung bila susunan makanan salah,salah dalam kuantitas atau kualitas makanan,sedangkan faktor tidak langsung akibat tidak masuknya zat-zat gizi kedalam sel tubuh.
Showing posts with label Mengobati penyakit maag. Show all posts
Showing posts with label Mengobati penyakit maag. Show all posts
Friday, July 2, 2010
Tanda kurang gizi
Menurut Dr. Sri Kurniati M.S., Dokter Ahli Gizi Medik Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, kurang gizi pada anak terbagi menjadi tiga. Pertama, disebut sebagai Kurang Energi Protein Ringan. Pada tahap ini, Sri menjelaskan bahwa belum ada tanda-tanda khusus yang dapat dilihat dengan jelas. Hanya saja, berat badan si anak hanya mencapai 80 persen dari berat badan normal. Sedangkan yang kedua, disebut sebagai Kurang Energi Protein Sedang. Pada tahap ini, berat badan si anak hanya mencapai 70 persen dari berat badan normal. Selain itu, ada tanda yang bisa dilihat dengan jelas adalah wajah menjadi pucat, dan warna rambut berubah agak kemerahan. Ketiga, disebut sebagai Kurang Energi Protein Berat. Pada bagian ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu kurang sekali, biasa disebut Marasmus. Tanda pada marasmus ini adalah berat badan si anak hanya mencapai 60 persen atau kurang dari berat badan normal. Selain marasmus, ada lagi yang disebut sebagai Kwashiorkor. Pada kwashiorkor, selain berat badan, ada beberapa tanda lainnya yang bisa secara langsung terlihat. Antara lain adalah kaki mengalami pembengkakan, rambut berwarna merah dan mudah dicabut, kemudian karena kekurangan vitamin A, mata menjadi rabun, kornea mengalami kekeringan, dan terkadang terjadi borok pada kornea, sehingga mata bisa pecah. Selain tanda-tanda atau gejala-gejala tersebut, ada juga tanda lainnya, seperti penyakit penyertanya. Penyakit-penyakit penyerta tersebut misalnya adalah anemia atau kurang darah, infeksi, diare yang sering terjadi, kulit mengerak dan pecah sehingga keluar cairan, serta pecah-pecah di sudut mulut.
Akibat gangguan gizi terhadap fungsi tubuh
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Baikpada status gizi kurang, maupun status gizi lebih terjadi gangguan gizi. Dan gangguan gizi disebabkan oleh faktor tidak langsung dan faktor langsung, factor langsung bila susunan makanan salah,salah dalam kuantitas atau kualitas makanan,sedangkan faktor tidak langsung akibat tidak masuknya zat-zat gizi kedalam sel tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gizi
1) Penyebab tidak langsung
Tidak semua zat gizi yang di peroleh dari makanan untuk kebutuhan tubuh mereka ( asupan makanan )juga gizi yang buruk menyebabkan mudah terjadi imfeksi juga sering menyebabkan meningkatnya kebutuhan zat gizi. Sedangkan napsu makan biasanya menurun jika terjadi penyakit imfeksi dan dapat menyebabkan anak yanggizi baik akan menderita gangguan gizi.
2) Penyebab tidak langsung
Faktor ketidak tahuan atau berhubungan dengan kesehatan, ketidaktahuan akan kaidah makanan bagi kesehatan tubuh merupakan sebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya anak balita atau anak di bawah lima tahun.faktor social budaya, meliputi prangka buruk terhadap makan tertentu, adanya kebiasaan atau pantangan yamg merugikan, kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu, jarak kelahiran yang terlalu dekat.
3) Faktor ekonomi
Faktor ekonomi, keterbatasan penghasilan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan penyediaan makanan dirumah, keuangan juga mempunyai andil dalam kualitas hidangan yang disajikan sehari- hari, tetapi ini tidaklah mutlak. Pengetahuan tentang kadar gizi dalam berbagai bahan makanan dan kegunaan makanan bagi kesehatan keluarga dapat membantu ibu memilih makanan yang harganya tidak begitu mahal tetapi nilai gizinya tinggi.
4) Faktor politik
Faktor politik, hal ini menyangkut tentang kebijakan pemerintah dalam distribusi makanan, factor harga dan hubungan antar Negara. Faktor genetik adalah faktor dasar yang memegang peranan penting dalam status gizi ( Supriasa, 2002)
5) Anak-anak yang memiliki risiko
Berbagai studi telah mengidentifikasi factor-faktor risiko tinggi yang mempunyai pengaruh terhadap status gizi anak. Faktor-faktor itu berkaitan dengan kondisi, sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan, mencangkup :
a) Berat bayi lahir rendah
b) Kembar
c) Banyak anak-anak dalam keluarga
d) Pertumbuhan yang lambat
e) Pemberian bahan makanan tambahan terlalu dini atau terlalu telat
f) Sering terkena imfeksi
g) Ibu yang buta hurup diantara ibu yang berpendidikan
h) Kemiskinan
i) Anak-anak yang orang tuanya tidak lengkap
Masalah gizi pada anak
Menurut Arisman, (2004) masalah gizi yang terjadipada anak diantaranya:
1) Anemia Defesiensi Besi
Keadaan ini terjadi karena terlalu sedikit kandungan zat besi mdalam makanan, terutama pada anak yang terlalu banyak mengkonsumsi susu sehingga mengendurkan keinginan untuk menyantap makanan yang lain. Untuk mengatasi keadaan ini, disamping memberi suplementasi zat besi (bila perlu), anak harus pula diberi dan dibiasakan menyantap makanan yang banyakl mengandung zat besi.
1) Karies Gigi
Lubang pada gigi sering terjadi pada anak-anak, karena terlalu sering makan camilan yang lengket dan terlalu banyak gula. Karies terjadi pada gigi sulung memang tidak berbahaya, namun kejadian ini biasanya berlangsung sampe anak memasuki usia remaja, bahkan sampe dewasa .
2) Penyakit kronis
Penyakit yang tidak menguras cadangan makanan energi sekalipun karena dapat menghilangkan napsu makan anak.Misalnya penyakit campakyang menghabiskan cadangan vitamin A.
3) Berat Badan Berlebih
Penyakit ini terjadi ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energy, yakni konsumsi kslori berlebih dibandingkan kebutuhan atau pemakaian energi. Kelebihan energi didalam tubuh disimpan dalam bentuk lemak. Pada keadaan normal jaringan lemak ini ditimbun di jaringan tertentu diantaranya jaringan subcutan, dan jaringan tirai usus, seseorang dikatakan obesitas bila berat badan pada laki-laki melebihi 15%, dan pada wanita melebihi 20% dari berat badan ideal.(Soekidjo, 2004)
4) Berat Badan Kurang
Kekurangan berat badan yang berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan masalah serius. Kondisi ini mencerminkan kebiasaan makan yang buruk sama seperti kebiasaan berat, langkah penanganan harus didasarkan pada penyebab serta kemungkinan pemrcahan
5) Kurang Kalori Protein
Kurang Kolori Protein(KKP) akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,protein, atau keduanya,tidak tercukupi oleh diet.kedua bentuk difisiensi ini tidak jarang berjalan bersisian, meskipun salah satu lebih dominant dari pada yang lain. Sindrom kuasiokor terjadi mana kala defisiensi lebih nampak protein, dan marasmus termanisfestasi jika terjadi kekurangan energi yang parah. Kombinasi kedua bentuk ini, marasmus-kuasiokor.
Subscribe to:
Posts (Atom)