Showing posts with label artikel sosiologi kesehatan artikel bahasa inggris tentang kesehatan. Show all posts
Showing posts with label artikel sosiologi kesehatan artikel bahasa inggris tentang kesehatan. Show all posts

Saturday, July 3, 2010

Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Permainan Anak

Menurut Hurlock, cit Hartiningsih, (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak yaitu :
1) Kesehatan
Semakin sehat anak akan semakin aktif.
2) Stimulasi Bermain
Rangsangan yang dilakukan terus-menerus bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan meningkatkan kecerdasan anak.
3) Intelegensi
Dimana anak yang pandai lebih aktif dari anak yang kurang pandai.
4) Jenis kelamin
Dimana anak laki-laki menunjukkan perhaitan pada berbagai jenis permainan pada awal masa kanak-kanak dibanding perempuan sebalikanya pada perempuan terjadi pada akhir masa kanak-kanak.
5) Lingkungan
Anak desa kurang bermain dibanding dengan lingkungan kota, karena kurangya peralatan dan waktu bebas.
6) Status ekonomi
Dimana anak dari sosial ekonomi yang tinggi lebih menyukai kegiatan mahal, sedangkan anak kalangan bawah kegiatan mereka yang mahal adalah sepak bola dan berenang.


7) Waktu yang terbatas
Dimana anak desa lebih menggunakan waktu mereka untuk menolong orang tuanya dan peralatan bermain tergantung dengan alat yang sesuai perkembangan anak.

Makna Stimulasi

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sejak janin 6 bulan didalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua system indra (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus tangan dan kaki (http://www.tabloid-nakita.com).
Rangsangan dilakukan sejak bayi baru lahir, terus-menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multiple) yaitu kecerdasan : logika-matematik, emosi, komunikasi bahasa (linguistic), kecerdasan musical, gerak (kinestetik), seni rupa, dan lain-lain (http://www.tabloid-nakita.com).
Anak yang banyak mendapatkan stimulasi akan lebih cepat berkembang dari pada anak yang kurang atau bahkan belum dapat stimulasi. Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Pada awal perkembangan anak berada pada tahap sensorik motorik. Pada tahap ini keadaan kognitif anak akan memperlihatkan aktifitas motoriknya yang merupakan hasil dari stimulasi sensorik. Stimulasi bermain mendorong perkembangan potensi yang diwarisi. Ini terutama penting selama bulan-bulan awal kehidupan sebelum bayi dapat berjalan dan dapat melakukan sesuatu sendiri (Hurlock, cit Hartiningsih, 2007).
Pada tahun-tahun pertama tumbuh kembang anak, anak belajar mendengarkan yang disebut juga “periode kesiapan mendengarkan”. Stimulasi verbal pada periode ini sangat penting untuk perkembangan bahasa anak pada tahun pertama kehidupannya. Karena kualitas dan kuantitas vokalisasi seorang anak dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar menirukan kata-kata yang didengarkannya. Stimulasi taktil juga dibutuhkan oleh anak, kurangnya stimulasi taktil dapat menyebabkan penyimpangan perilaku sosial, emosional dan motorik. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan oleh anak. Stimulasi macam ini akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak sehingga anak akan lebih responsif terhadap lingkungan dan lebih berkembang (Soetjiningsih, cit Wardani, 2008). Optimalisasi perkembangan anak dapat dilakukan dengan cara menstimulasi kemampuan anak sesuai dengan usianya.

Cara melakukan stimulasi pada anak

Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi maupun balita, setiap hari, terus-menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan menggembirakan antara pengasuh, bayi/balita. (http://www.tabloidnakita.com).
1) Stimulasi untuk anak usia 12-18 bulan :
Latihan mencoret-coret, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana, memasukkan benda-benda kecil kedalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, berjalan dengan berpegangan.
2) Stimulasi untuk umur 18-24 bulan:
Menyebut-nama-nama bagian tubuh, menyamakan nama-nama binatang, dan benda-benda disekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan makan, minum, mandi, latihan menggambar garis, menuci tangan, bermain melempar bola, melempar.
3) Stimulasi untuk umur 2-3 tahun
Mengenal dan menyebutkan warna, tinggi rendah, banyak sedikit, menghitung benda, latihan memakai baju, menggambar lingkaran, manusia, latihan berdiri dengan satu kaki, latihan buang air kecil.
4) Stimulasi umur diatas 3 tahun :
Selain mengembangkan kemampuan-kemampuan stimulasi juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain memegang pensil, menulis, mengenal hurup dan angka, berhitung sederhana, menuruti perintah sederhana (buang air kecil, besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman, rangsangan dapat dilakukan di rumah, maupun di taman kanak-kanak maupun sejenisnya. (http://www.tabloid-nakita.com).
Interaksi antara pengasuh dan anak harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik. Yaitu pengasuh harus memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan suasana rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau prilaku baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu ketika melakukan kesalahan (http://www.tabloid-nakita.com).

Aspek kognitif proses penuaan

Stereotipe menunjukkan bahwa individu lansia mempunyai proses berpikir yang lambat, mudah lupa bingung dan pikun.(Brunner & Suddarth, 2001). Dampak dari menurunnnya fungsi neurologis dan fungsi sensoris lanjut usia berakibat pada menurunnnya beberapa fungsi kognitif, terutama dalam hal penurunan daya ingat, lambatnya proses pikir, kurang efektifnya kemampuan pemecahan masalah. Hal ini memerlukan upaya yang lebih intensif untuk membantu lanjut usia mencegah dan menunda proses kemunduran kognitifnya.
Lanjut usia yang sehat memiliki cara hidup yang baik, umumnya dapat tetap melakukan aktivitas-aktivitas yang menuntut kemampuan kognitif dengan hasil dan kualitas yang sama dengan orang yang lebih muda, namun perlu cara dan tehnik , dan pendekatan yang lebih tepat, dengan mempertimbangkan keterbatasan aspek kognitifnya. (Daengsari, 2000 cit. Handayani, 2003)
Semua organ pada proses menua mengalami perubahan struktural dan fisiologis, begitu juga otak. Perubahan ini disebabkan karena kehilangan fungsi neuron di otak secara progresif. Kehilangan fungsi ini akibat menurunnya aliran darah ke otak, lapisan otak terlihat berkabut dan metabolisme di otak lambat. Selanjutnya sangat sedikit yang diketahui tentang pengaruhnya terhadap perubahan fungsi kognitif pada usia lanjut. Perubahan kognitif yang dialami oleh lansia adalah demensia, delirium.
Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lansia muncul akibat kesalahan konsep karena lansia memiliki kerusakan kognitif. Akan tetapi, perubahan struktur dan fisiologis yang terjadi dalam otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif dan fungsi secara nyata. Sel neurofisiologis berubah bervariasi pada setiap individu. Adakalanya saat terjadi tedensi perilaku yang sebelumnya diperberat. Oleh karena itu, seseorang yang kompulsif saat dewasa awal dan tengah menjadi lebih kompulsif saat lansia. Perubahan kognitif terjadi pada lansia saat terjadi disfungsi atau trauma serebral. (Potter dan Perry, 2005)
Perubahan pada fungsi kognitif diantaranya adalah kemunduran umumnya terjadi pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek; kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran; kemampuan verbal dalam bidang vokabular (kosakata) akan menetap bila tidak ada penyakit. (Mubarak, 2005)

Kemampuan usia lanjut dalam pemenuhan ADS

Pada saat menua terjadi perubahan struktur dan fungsi organ secara menyeluruh. Perubahan pada usia lanjut akan melalui beberapa tahap yaitu: impairement (kelemahan), disability (keterbatasan), dan handicap (keterhambatan). WHO menjelaskan impairment adalah hilangnya atau tidak normalnya kondisi fisiologis, psikologi atau struktur dan anaatomi tubuh. Dijelaskan pula beberapa bagian yang mengalami kelemahan, antara lain kemampuan berbicara, pendengaran, penglihatan, organ-organ gerak, dan bentuk tubuh. Disability merupakan keterbatasan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh seseorang. Keterbatasan ini terjadi karena hasil dari kelemahan organ tubuh di atas, dan meliputi kemampuan berkomunikasi, berperilaku, dan memelihara diri. Handicap (keterhambatan/ketidakmampuan) adalah hambatan untuk melakukan aktivitas dasar (makan, mandi, berpakaian, memindahkan tubuh, mengontrol BAB dan BAK). Keterhambatan ini terdiri atas kemampuan orientasi, ketergantungan fisik, mobilitas, dan interaksi sosial.
Menurut WHO cit. Astuti, 1997 mengkatagorikan tingkat kemampuan setelah pengkajian menjadi 4 katagori yaitu:
a. Katagori 1 : mandiri
b. Katagori 2 : perlu pengawasan
c. Katagori 3 : memerlukan bantuan sebagian
d. Katagori 4 : memerlukan bantuan penuh
Katagori ini dapat untuk melihat kemampuan usila dalam pelaksanaan aktivitas dasar sehari-hari.

Batasan Lanjut Usia

Terdapat beberapa pendapat mengenai batasan lansia, yaitu:
1) Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
Lanjut usia meliputi:
a) Usia pertengahan (middle age), adalah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b) Lanjut usia (elderly), adalah kelompok usia 60 sampai 74 tahun.
c) Lanjut usia tua (old), adalah kelompok usia 75 sampai 90 tahun.
d) Usia sangat tua (very old), adalah kelompok usia diatas 90 tahun.
2) Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohamad
Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohamad (alm) Guru Besar Universitas Gajah Mada pada Fakultas Kedokteran, membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut :
a) Usia 0 sampai 1 tahun adalah masa bayi.
b) Usia 1 sampai 6 tahun adalah masa prasekolah.
c) Usia 6 sampai 10 tahun adalah masa sekolah.
d) Usia 10 sampai 20 tahun adalah masa pubertas.
e) Usia 40 sampai 65 tahun adalah masa setengah tahun (prasenium).
f) Usia 65 tahun keatas adalah masa lanjut usia (senium)
3) Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (Psikolog UI)
Dra. Ny. Jos Masdani mengatakan lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
a) Fase inventus, yaitu antara usia 25 dan 40 tahun.
b) Fase vertilitas, yaitu antara usia 40 dan 50 tahun.
c) Fase prasenium, yaitu antara usia 55 dan 65 tahun.
d) Fase senium, yaitu antara usia 65 tahun hingga tutup usia.
4) Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro
Pengelompokan lanjut usia sebagai berikut:
a) Usia dewasa muda (elderly adulthood), yaitu usia 18 atau 20 sampai 25 tahun.
b) Usia dewasa (middle years) atau maturitas, yaitu usia 25 sampai 60 atau 65 tahun.
c) Lanjut usia (geriatric age), yaitu usia lebih dari 65 atau 70 tahun.
d) Young old, yaitu usia 70 sampai 75 tahun.
e) Old, yaitu 75 sampai 80 tahun.
f) Very old, yaitu usia lebih dari 80 tahun.


5) Menurut UU No. 4 tahun 1965
Bantuan penghidupan orang jompo/ lanjut usia yang termuat dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut: “Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi sebagai berikut: Bab I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut Usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan lanjut usia adalah oranng yang telah berusia 65 tahun keatas.

1) Perubahan-perubahan fisik

a) Sel
Pada proses menua, sel akan mengalami perubahan dalam hal jumlah, ukuran, beratnya. Jumlah sel berkurang, ukurannya lebih besar, beratnya berkurang 5-10 %. Cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang, serta menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati. Selain itu mekanisme perbaikan sel juga terganggu.
b) Sistem persarafan
Berat otak menurun sehingga hubungan persarafan menurun, dan mengakibatkan lambatnya dalam respon. Selain itu juga saraf panca indera mengecil.
c) Sistem pendengaran
Pada sistem pendengaran, terjadi presbikusis (gangguan pada pendengaran), membran timpani menjadi atrofi sehingga menyebabkan otosklerosis, terjadi pengerasan serumen akibat meningkatnya keratin.
d) Sistem penglihatan
Pada sistem penglihatan terjadi sklerosis pada sfingter pupil dan hilangnya respon terhadap sinar, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram, meningkatnya ambang pengamatan sinar sehingga susahnya melihat dalam cahaya gelap, serta hilangnya daya akomodasi. Selain itu lapang pandang menurun dan daya membedakan warna biru atau hijau pada skala menurun.
e) Sistem kardiovaskuler
Daya elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1 %, kehilangan elastisitas pembuluh darah, serta terjadi peningkatan tekanan darah.
f) Sistem pengaturan temperatur tubuh
Temperatur tubuh menurun (terjadi hipotermia) dan terjadi keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
g) Sistem respirasi
Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, aktivitas silia menurun, paru-paru kehilangan elastisitas, ukuran alveoli melebar, O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 pada arteri tidak berganti, kemampuan untuk batuk berkurang.
h) Sistem gastrointestinal
Perubahan yang terjadi pada sistem gastrointestinal berupa, kehilangan gigi, indera pengecap menurun, esophagus melebar, sensitifitas lapar menurun, peristaltik melemah dan biasanya terjadi konstipasi, fungsi absorpsi melemah, liver makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkuranngnya aliran darah.

i) Sistem reproduksi
Menciutnya ovari dan uterus, atrofi payudara, selaput lendir vagina menurun, dan pada laki-laki terjadi penurunan secara berangsur-angsur pada produksi sperma.
j) Sistem genitourinaria
Terjadi atrofi nefron, kapasitas kandung kemih menurun, terjadi pembesaran prostat (pada laki-laki), atrofi vulva.
k) Sistem endokrin
Produksi dari hampir semua hormon menurun kecuali paratiroid.
l) Sistem integumen
Kulit keriput karena kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kelenjar keringat berkurang dalam jumlah dan fungsi, kulit kepala dan rambut menipis, rambut dalam hidung dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku menjadi lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh.
m) Sistem muskuloskletal
Tulang kehilangan cairan dan makin rapuh, terjadi kifosis, discus invertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang), persendian membesar dan menjadi kaku, tendon mengerut dan terjadi skelerosis, terjadi atrofi serabut otot.