Showing posts with label artikel kesehatan mental. Show all posts
Showing posts with label artikel kesehatan mental. Show all posts

Saturday, July 3, 2010

PATOFISIOLOGI Atresia ani

Terjadinya anus imperforata karena kelainan congenital dimana saat proses perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rectum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitor urinary dan struktur anoretal.
Atresia ani ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin. Kegagalan tersebut terjadi karena abnormalitas pada daerah uterus dan vagina, atau juga pada proses obstruksi. Anus imperforate ini terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.
Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstuksi dan adanya 'fistula. Obstuksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia, sebaliknya feses mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rectum dengan organ sekitarnya. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada laki- laki biasanya letak tinggi, umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostate (rektovesika) pada letak rendah fistula menuju ke urethra (rektourethralis).

fFaktor-faktor Penyebab Atresia

Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
4. Insiden + 1 : 4000 – 5000
5. Secara tertutup diasosiakan dengan devidasi kongenital lainnya seperti : penyakit jantung, atresia esofagus, spinal malformasi, hidronefrosis, BBLR.


PENGERTIAN ATRESIA ANI

Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, tresis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Jadi ATRESIA ANI adalah bentuk kelainan bawaan dimana tidak adanya lubang dubur terutama pada bayi, rektum yang buntu terletak di atas levator sling yang juga dikenal dengan istilah "AGNESIS REKTUM".
Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforate atau malformasi anorectal. Jika atresia ani terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus (Tipe pertama)
2. Membran anus yang menetap (Tipe Kedua)
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam- macam jarak dari peritoneum (Tipe Ketiga)
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum (Tipe Keempat)


Pemantauan Perkembangan Psikomotor Anak

Pemantauan perkembangan psikomotor anak adalah penting untuk mengetahui penyimpangan secara dini sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi dan upaya penyembuhan serta pemulihan dalam pelayanan kesehatan anak. Upaya tersebut dilakukan sesuai dengan umur perkembangan anak sehingga dapat tercapai kondisi optimal. Pemantauan perkembangan psikomotorik anak dapat dilaksanakan dipusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dilingkungan rumah.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan psikomotor, antara lain :
a. Adanya stimulus yang sesuai dengan stimulus anak
b. Orang tua atau pengasuh dalam memberikan rangsangan
c. Melalui latihan-latihan yang tepat, menjadikan anak akan semakin terampil (Gamayanti, cit Prasetyawati, 2007).
Deteksi perkembangan anak untuk tes psikomotorik dengan menggunakan Denver Developmental Screening Tes II (DDST II), yaitu salah satu tes metode skrening yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun. Perkembangan yang dinilai meliputi perkembangan personal sosial, motorik halus, motorik kasar, dan bahasa pada anak. DDST II merupakan salah satu test psikomotorik yang sering digunakan diklinik atau rumah sakit bagi tumbuh kembang anak.
Interpretasi penilaian dari Denver II :
a. Advance melewati pokok secara lengkap kekanan dari garis usia ( dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia yang lebih besar dari anak tersebut).
b. OK : melewati, gagal, atau menolak yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil 25 dan ke 75.
c. Causion : gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia diatas atau diantara persentil ke 75 dan ke 90.
d. Delay : gagal pada suatu pokok secara menyeluruh kearah kiri garis usia, penolakan kekiri garis usia juga dapat dianggap sebagai keterlambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ktidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu.
Interpretasi tes
a. Normal : tidak ada keterlambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan.
b. Suspect : satu atau lebih keterlambatan dan/atau 2 atau lebih bayak kewaspadaan.
c. Untestable : penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap kekiri garis usia atau lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 95%.
Rekomendasi untuk rujukan tes suspect atau untestable
a. Screening ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer.
b. Bila screening ulang ini bersifat suspect atau untestable gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut, angka kewaspadaan dan keterlambatan, laju perkembangan dimasa lalu, pemeriksaan dan riwayat klinis, ketersediaan sumber rujukan.


Aspek-aspek perkembangan anak

1) Perkembangan Kognitif
Pada aspek koginitif, perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah, dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya (http://makalahdanskripsi.blogspot.com).
2) Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.
Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi (http://makalahdanskripsi.blogspot.com).
3) Perkembangan Psikomotor
Perkembangan psikomotor adalah perkembangan pengendalian gerakan jasmani melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Kombinasi biologis, psikososial, kognitif, kreatifitas, spiritual dan penerimaan sosial selama periode anak usia 1-5 tahun membimbing anak dengan akrab, penuh kasih sayang tetapi juga tegas sehingga anak tidak mengalami kebingungan, mengenal kebutuhan anak, anak belajar kemandirian (http://makalahdanskripsi.blogspot.com).
Perkembangan psikomotor anak usia 1-5 tahun meliputi :
a) Perkembangan Motorik Anak
Perkembangan motorik anak adalah perkembangan penguasaan otot-otot berhubungan dengan perkembangan gerakan, dimana perkembangan motorik anak dibagi menjadi 2 macam yaitu :
(1) Perkembangan motorik halus untuk menilai anak dalam mengkoordinasikan mata dan kedua tangannya seperti menyusun balok, menjimpit kismis, mencorat-coret.
(2) Perkembangan motorik kasar yaitu untuk menilai kemampuan anak seperti jalan, melompat dan sebagainya (http://www.tabloidnakita.com).
Perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak usia 1-2 tahun.
Dalam perkembangan anak usia 1 tahun motorik kasar anak mampu berjalan satu tangan dipegang, meluncur dengan baik, dapat berusaha berdiri sejenak, dapat berusaha melangkah pertama sendiri, dapat duduk dari posisi berdiri tanpa bantuan. Perkembangan motorik halus dapat melepas kotak kedalam cangkir, berusaha untuk membangun 2 balok menara tetapi gagal, mencoba untuk memasukkan butir-butir ke dalam leher botol yang sempit tetapi gagal, dapat membalikkan halaman buku, banyak dalam sekali waktu (Wong, 2008).
Perkembangan anak usia 15 bulan, pada perkembangan motorik kasar anak berjalan tanpa bantuan, memanjat tangga, berlutut tanpa sokongan, tidak dapat berjalan disekitar sudut atau berhenti tiba-tiba tanpa kehilangan keseimbangan, memilih posisi berdiri tanpa sokongan, tidak dapat melempar bola tanpa jatuh. Pada perkembangan motorik halus anak sudah mampu melepaskan butir-butir dalam leher botol yang sempit, mencorat-coret secara spontan, menggunakan cangkir dengan baik, secara spontan menjatuhkan objek ke lantai, membangun menara dari 2 kotak (Wong, 2008).
Pada umur 18 bulan, perkembangan motorik kasar anak mampu melangkah dan berjalan dengan tegak, duduk sendiri di kursi, melempar bola dari satu tangan ke tangan lain tanpa jatuh. Perkembangan motorik halus anak mampu membangun menara tiga sampai 4 kotak, membalik halaman dalam buku dua atau tiga lembar secara sekaligus, mengatur sendok tanpa memutar, dalam menggambar membuat sesuai tiruan (Wong, 2008).
Pada usia 2 tahun perkembangan motorik kasar anak mampu naik dan turun tangga sendiri, dengan dua kaki pada setiap langkah, berdiri dengan seimbang dengan langkah lebar, menangkap objek tanpa jatuh, menendang bola tanpa gangguan keseimbangan. Perkembangan motorik halus anak mampu membangun menara dengan enam sampai tujuh kotak, menyusun dua atau lebih kotak menyerupai kereta, membalik halaman buku satu sekali waktu, dalam menggambar, meniru, tekanan vertikal dan melingkar, memencet bel pintu, membuka gerendel (Wong, 2008).
Perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak masa prasekolah
Perkembangan anak pada usia 30 bulan pada perkembangan motorik kasar, diwakili dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit ke jari kaki, menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan. Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar 2 atau 3 bagian, memilih garis yang lebih panjang dan melambaikan tangan, menggunakan tangannya untuk bermain, menempatkan objek didalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, membuat coretan di atas kertas (Aziz, 2005), membangun menara 8 kotak,menggambar, meniru garis vertikal, horizontal membuat dua atau lebih garis menyilang (Wong, 2004).
Pada usia 3 tahun perkembangan motorik kasar anak mampu mengendarai roda tiga,melompat dari langkah dasar, berdiri pada satu kaki untuk beberapa detik, menaiki tangga beberapa kai bergantian, dapat tetap turun dengan menggunakan dua kaki, melompat panjang, mencoba untuk berdansa tetap keseimbangan tidak adekuat, melompat panjang. Perkembangan motorik halus anak mampu membangun menara dari 9 atau 10 kotak, membangun jembatan dengan 3 kotak, secara benar memasukkan biji-biji dalam botol berleher sempit, dapat menggambar meniru lingkaran, silangan, menyebut apa yang telah digambarkan, membuat lingkaran dengan gambar wajah (Wong, 2004).
Pada usia 4 tahun perkembangan motorik kasar anak mampu melompat dan meloncat, menangkap bola dengan tepat, melempar bola bergantian, berjalan menuruni tangga dengan kaki bergantian. Perkembangan motorik halus menggunakan gunting dengan baik untuk memotong gambar mengikuti garis, dapat memasang sepatu tetapi tidak dapat mengikat talinya, dalam menggambar menyalin bentuk kotak, menjiplak garis, menambahkan tiga bagian pada gambar jari, (Wong, 2004).
Perkembangan anak usia 5 tahun, perkembangan motorik kasar meloncat dan melompat pada kaki bergantian, melempar dan menangkap bola dengan baik, meloncat keatas, bermain skets dengan perkembangan yang baik, berjalan mundur dengan tumit dan jari kaki, melompat pada ketinggian 12 inci, dan bertumpu pada jari kaki, keseimbangan pada jari kaki bergantian dengan mata tertutup. Perkembangan motorik halus anak mampu mengikat tali sepatu, menggunakan gunting, alat sederhana atau pensil dengan sangat baik, dalam menggambar, meniru gambar, mencetak beberapa huruf, angka atau kata seperti kata panggilan (Wong, 2004).
b) Perkembangan Bahasa dan Bicara
Perkembangan bahasa dan bicara adalah kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan. Ketika anak menggunakan keterampilan motor, mereka juga menambah kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan pikiran dengan orang lain melalui bahasa. Menurut Donna L Wong (2008) karakteristik perkembangan utama bahasa dan bicara anak usia 1-5 tahun yaitu :
Perkembangan bahasa anak umur 1 tahun yaitu mengatakan dua sampai tiga kata-kata dengan arti dan meniru bunyi-bunyi binatang. Dan perkembangan bicaranya, mengabaikan hampir semua konsonan akhir dan beberapa konsonan awal, mengganti konsonan “m”, ”w”, ”p”, ”b”, ”k”, ”g”, ”n”, ”t”, ”d”, dan “h” dengan bunyi-bunyi yang lebih sulit.
Pada anak usia 2 tahun perkembangan bahasanya mampu menggunakan frase dua atau tiga kata, mempunyai perbendaharaan kata kira-kira 300 kata, dan menggunakan “saya”,”aku”,”kamu”. Perkembangan bicaranya menggunakan konsonan dengan “m”,”w”,”p”,”b”,”k”,”g”,”n”,”t”,”d”, dan “h” dengan huruf hidup.
Pada anak usia 3 tahun, perkembangan bahasanya mengatakan empat sampai lima kalimat kata, mempunyai perbendaharaan kata kira-kira 900 kata, menggunakan “siapa”,”apa”, dan “dimana” dalam mengajukan pertanyaan, menggunakan kata majemuk, kata ganti, dan preposisi. Pada perkembangan bicara menguasai “b”,”t”,”d”,”k”,dan “g”; bunyi “r” dan “l” mungkin masih tidak jelas, mengabaikan atau menambahkan “w”.
Pada usia 4-5 tahun perkembangan bahasanya mempunyai perbendaharaan kata 1500 sampai 2100 kata, mampu menggunakan bentuk gramatik dengan benar seperti kalimat masa lampau dari kata-kata “kemarin”, menggunakan kalimat lengkap dengan kata benda, kata kerja, preposisi, kata sifat, kata keterangan, dan penghubung. Perkembangan bicaranya mampu menguasai “f” dan “v”; mungkin masih tidak jelas “r”,”l”,”s”,”z”,”ch”,”y”,dan “th”.
c) Perkembangan Sosial / personal sosial
Perkembangan sosial adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Loree (1970:86) dengan menyitir pendapat English & English (1958) menjelaskan lebih lanjut bahwa sosialisasi itu merupakan suatu proses di mana individu (terutama anak) melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelornpoknya); belajar bergaul dengan dan bertingkah laku seperti orang lain, bertingkah laku di dalam lingkungan sosio-kulturalnya.
Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Bermain menggambar, bercerita adalah strategi penyembuhan yang efektif untuk anak prasekolah umur 3 tahun dan yang lebih tua (http://makalahdanskripsi.blogspot.com).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pada Tumbuh Kembang Anak

Menurut Aziz (2005), dalam proses pertumbuhan dan perkembangan individu akan mengalami siklus berbeda dalam kehidupan manusia. Peristiwa tersebut dapat secara cepat maupun lambat tergantung dari individu maupun lingkungan. Proses percepatan maupun perlambatan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
1) Faktor dalam (internal)
a) Genetika
Faktor genetika akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan dan kematangan tulang, alat seksual, serta syaraf, sehingga merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang, yaitu : perbedaan ras, etnis, atau bangasa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan kromosom, pengaruh hormone.
b) Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu sejak janin berumur 4 bulan pada saat itu, terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon yang berpengaruh terutama homon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary. Selain itu, kelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna untuk metabolism serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
2) Faktor eksternal
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Yang termasuk faktor lingkungan yaitu lingkungan prenatal lingkungan kandungan), dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah lahir). Yaitu :
a) Lingkungan Prenatal (selama kehamilan) meliputi :
(1) Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama selama trimester akan persalinan.
(2) Mekanisme, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat menyebabkan kelainan kongenital.
(3) Toksin, zat kimia, radiasi.
(4) Kelainan endokrin.
(5) Infeksi TORCH atau penyakit menular seksual
(6) Kelainan imunologi
(7) Psikologi ibu
b) Faktor kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forceps dapat menyebabkan terutama kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya kerusakan jaringan otak.
c) Faktor pascanatal
Lingkungan pascanatal yang berpengaruh dapat digolongkan :
(1) Lingkungan biologis dibagi atas :
(a) Ras/suku bangsa
Pertumbuhan somatik juga dipengaruhi oleh ras/suku bangsa. Bangsa kulit putih/ras Eropa mempunyai pertumbuhan somatik lebih tiggi daripada bangsa asia.
(b) Jenis kelamin
Dikatakan laki-laki lebih sering daripada anak perempuan. Tetapi belum diketahui secara pasti mengapa demikian.
(c) Umur
Umur paling rawan adalah Balita, oleh karena itu masa balita merupakan dasar daripada kepribadian anak. Sehingga perlu perhatian khusus.
(d) Gizi
Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh dan berkembang. Ketahanan makanan keluarga , dimana acap kali kepentingan budaya bertabrakan dengan kepentingan biologi anggota keluarga.
(e) Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kalau anak sakit, tetapi pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan, akan menunjang pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dianjurkan untuk dilakukan secara komprehensif yang mencakup aspek-aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabililtasi
(f) Kepekaan terhadap penyakit
Dengan memberikan imunisasi, maka diharapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian. Dianjurkan sebelum anak berumur satu tahun sudah mendapat imunisasi BCG, Polio 3 kali, DPT 3 kali, Hepatitis B 3 kali, dan Campak.
(g) Penyakit kronis
Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu tumbuh kembangnya dan pendidikannya, disamping itu anak juga mengalami setres yang berkepanjangan akibat dari penyakitnya.
(h) Fungsi metabolisme
Khusus pada anak, karena adanya perbedaan yang mendasar dalam proses metabolisme pada berbagai umur, kebutuhan akan berbagai nutrien harus didasarkan atas perhitungan yang tepat/ setidak-tidaknya memadai.
(i) Hormon
Hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang adalah growth hormone, tiroid, hormone sex, insulin, IGFs (Insulin-like growth factors), dan hormone yang dihasilkan kelenjar adrenal.
(2) Faktor fisik, antara lain :
(a) Cuaca, musim,keadaan geografis suatu daerah
Musim kemarau dapat berdampak pada tumbuh kembang anak antara lain sebagai akibat gagalnya panen, sehingga banyak anak yang kurang gizi.
(b) Sanitasi
Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang cukup mendukung kesehatan dan tumbuh kembangnya. Kebersihan, baik kebersihan perseorangan maupun lingkungan memegang peran penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang maka anak sering sakit, misalnya diare.
(c) Keadaan rumah : struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian. Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi bangunan yang tidak membahayakan penghuninya.
(d) Radiasi
Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya radiasi yang tinggi.
(3) Faktor psikososial, antara lain :
(a) Stimulasi
Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang dapat stimulasi yang terarah dan teratur lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak mendapat stimulasi.


(b) Motivasi belajar
Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar,misalnya adanya sekolah yang tidak terlalu jauh, buku-buku, suasana.
(c) Ganjaran ataupun hukuman yang wajar
Kalau anak berbuat benar, maka wajib kita memberi ganjaran, misalnya pujian, ciuman, belaian, tepuk tangan dan sebagainya. Ganjaran akan menyebabkan motivasi yang kuat bagi anak untuk mengulangi tingkah lakunya yang benar. Sedangkan menghukum dengan cara-cara yang wajar jika anak berbuat salah.
(d) Kelompok sebaya
Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya. Tetapi perhatian dari orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak tersebut bergaul.
(e) Setress
Setress pada anak juga berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya, misalnya anak akan menarik diri, rendah diri, terlambat bicara, nafsu makan menurun, dan sebagainya.


(f) Sekolah
Dengan adanya wajib belajar 9 tahun sekarang ini,diharapkan setiap anak mendapat kesempatan duduk di bangku sekolah minimal 9 tahun. Sehingga dengan mendapat pendidikan yang baik, maka diharapkan dapat meningkatkan tarap hidup anak tersebut.
(g) Cinta dan kasih sayang
Salah satu hak anak adalah hak untuk mencintai dan dilindungi. Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil dari orang tuanya.
(h) Kualitas interaksi anak-orang tua
Interaksi timbal balik antara anak dengan orang tua, akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka kepada orang tuanya, sehingga komunikasi bisa dua dan segala arah.
(4) Faktor keluarga dan adat istiadat antara lain :
(a) Pekerjaan/pendapatan
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan baik yang primer maupun yang sekunder.


(b) Pendidikan ayah/ibu
Dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikan dan sebagainya.
(c) Jumlah saudara
Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup, akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang diterima anak.
(d) Jenis kelamin dalam keluarga
Pada masyarakat tradisional, wanita memiliki status yang lebih rendah dibanding laki-laki, sehingga angka kematian bayi dan malnutrisi masih tinggi pada wanita.
(e) Stabilitas rumah tangga
Stabilitas dan keharmonisan rumah tangga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis, dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
(f) Kepribadian ayah/ibu
Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka tentu pengaruhnya berbeda terhadap tumbuh kembang anak, bila dibandingkan dengan yang kepribadiannya tertutup.


(g) Adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu
Adat istiadat yang berlaku tiap daerah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya.
(h) Agama
Pengajaran agama harus sudah ditanamkan pada anak-anak sedini mungkin, karena dengan memahami agama akan menuntun umatnya untuk berbuat baik dan kebijakan.
(i) Urbanisasi
Salah satu dampak dari urbanisasi adalah kemiskinan dengan segala permasalahannya.
(j) Kehidupan politik
Kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran, dan lain-lain.